PERSAMAAN HAK DAN PERSAMAAN DERAJAT DI INDONESIA

Hak adalah sesuatu hal yang benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu ,kekuasaan yg benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu, derajat atau martabat.

Yang saya kutip diatas adalah pengertian hak berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, menurut saya sendiri hak itu adalah sesuatu yang harus kita dapatkan dan kita lakukan dengan penuh tanggung jawab.

Ada 5 macam hak:

  1. Hak Legal dan Hak Moral
  2. Hak Positif dan Hak Negatif
  3. Hak Khusus dan Hak Umum
  4. Hak Individual dan Hak Sosial
  5. Hak Absolut (Hak tidak selalu bersifat absolute karena sesuatu hak akan kalah oleh alasan atau keadaan tertentu lain yang dapat menggugurkan posisi hak tersebut.)

Seperti yang kita tahu, telah banyak terjadi demo – demo yang menyuarakan tentang persamaan hak dan persamaan derajat yang disebabkan karena tindakan tidak adil pemerintah terhadap rakyatnya. Entah dalam masalah Hak Pria dan Wanita, Hak Si kaya dan Si miskin, atau Hak Si hitam dan Si putih.

Mungkin saya masih terlalu muda unutk membahas masalah ini secara mendalam, taepi saya akan melihat masalah ini dari sudut pandang seorang mahasiswa semester satu. Yang pertama yang akan saya angkat topiknya adalah “ Hak Pria dan Wanita”. Topik ini sudah sangat sering dibahas dari dahulu sampai sekarang. Dimulai saat masuknya emansipasi wanita ke Indonesia. Banyak suara dari Kaum ibu yang ingin adanya persamaan hak dan persamaan derajat. Setelah perjuangan panjang akhirnya suara merekapun didengar dan hasilnya bisa kita lihat tidak ada perbedaan hak dan derajat antara pria dengan wanita. Dari sisi pekerjaan, tidak sedikit para wanita yang menjadi pekerja kasar sekarang ini. Beberapa dari mereka ada yang bekerja sebagai kondektur angkutan umum atau bahkan sebagai sopirnya, dan masih banyak lagi pekerjaan pria yang dikerjakan oleh wanita sekarang ini.

Topik yang kedua tentang “ Hak Si kaya dan Si miskin”. Mungkin ini adalah salah satu ironi yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Saat dimana Si kaya terbang pergi meninggalkan Si miskin dan Si miskin yang tenggelam kehilangan Si kaya. Yang terjadi di masyarakat sekarang adalah seperti itu. Di dalam pergaulan orang yang masih ‘desa’ dikucilkan oleh yang ‘kota’. Yang kaya enggan bergaul dengan yang miskin dan yang miskin juga tidak mempunyai percaya diri yang tinggi untuk ikut bergaul dengan yang kaya. Jadi seperti ada gerbang atau bahkan jembatan pemisah antara SI miskin dan Si kaya. Ada lagi contoh  masalah seperti  maling ayam, copet, maling jemuran,dan maling – maling lainnya yang berusaha  mendapatkan uang demi sesuap nasi menerima hukuman yang tidak setimpal, mereka bisa saja tewas di tempat karena terkena amukan massa yang kesal tapi coba kita lihat apa yang para koruptor dapatkan saat mereka tertangkap sebagai pelaku? Bodyguard di sekeliling mereka, perlindungan hukum, fasilitas LP yang nyaman bak  hotel bintang lima. Padahal apabila kita lihat dari barang yang mereka curi, jumlah barang si maling tidaklah lebih 0,1% dari jumlah barang yang diambil sang koruptor. Contoh yang saya dapatkan dari berita di televisi atau bahkan headline di Koran pagi.

Ini saya dapatkan saat saya sedang berdiskusi dengan teman saya. Saya mendapat informasi bahwa pada 2012 nanti Pemerintah Provinsi DKI akan menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) DKI tentang Persampahan sebagai peraturan hukum turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Jadi apabila yang tertangkap membuang sampah sembarangan akan didenda sebesar Rp 2 juta, tapi ini tidak berlaku bagi yang miskin. Bagi Si miskin yang tertangkap membuang sampah sembarangan akan disuruh memungut sampah di jalan. Disini sebenarnya yang membuat saya bingung kenapa hanya Si miskin yang disuruh memungut sampah? Kenapa yang kaya tidak? Apa karena uang? Atau mereka dilihat dari derajat yang berbeda? Mungkin apabila Si kaya mendapat hukuman yang sama seperti Si miskin, memungut sampah, mereka bisa lebih peka terhadap kebersihan dan uang yang seharusnya digunangkan untuk membayar denda bisa dialihkan menjadi subsidi silang atau untuk menciptakan lapangan kerja baru.

Untuk terakhir saya juga ingin sedikit membahas tentang “ Hak Pejalan Kaki”. Di daerah Ibukota sudah tidak asing lagi bagi kita melihat kemacetan disana – sini. Terlalu banyak kendaraan pribadi di daerah kota. Sampai – sampai si pengendara lupa akan hak dari orang – orang yang berjalan kaki di pinggir jalan ataupun trotoar yang memang fungsinya sebagai tempat untuk orang berjalan kaki. Sering kita lihat pengendara motor mengambil jalur trotoar untuk menghindari kemacetan tapi yang mereka lakukan sebenernya adalah mengambil hak dari para pejalan kaki. Bukan masalah besar jika kondisi trotoar sedang sepi tapi saat kendaraan naik ke trotoar itu akan membuat si pejalan kaki berpikir kalo mereka memang tidak bisa turun dari bus untuk berjalan ikut mengindari kemacetan ibukota.

Kesimpulannya, menurut saya persamaan hak dan derajat yang ada di Indonesia ini masih belum sepenuhnya terlaksana dengan baik. Ada beberapa pihak yang mengambil keuntungan dari ketidakadilan atas hak dan derajat ini. Saya harap dikemudian hari kita semakin sadar bahwa dengan adanya persamaan hak dan derajat akan membuat Indonesia lebih bersatu dan indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s